Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Blogger Template From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 22 Oktober 2008

Secangkir KasihMu


Tuhan,

Kurasa hati ini masih jauh dariMu,

Walau setiap titis rezekimu kuteguk,

Walau setiap inci tanahmu kupijak,

Namun, kasihMU seakan tiada memenuhi ruang dadaku.



Apakah kelalaianku menjadi punca?

Atau cinta dunia telah menjadi raja di hati ini?



Aku masih mencari,

Cintaku yang tidak terarah,

Jalanku yang tebal diselaputi kabus dunia,



Tuhan,

Andai masih ada ruang cintaMU padaku,

Maka penuhilah hatiku dengan cintaMU,

Agar nawaituku lurus,

Menjadi Salahuddin Al-Ayyubi dalam setiap doa-doaku kepada Palestin!

Menjadi Umar Al-Kattab dalam setiap pendirianku!

Menjadi Abdul Rahman Bin Auf dalam setiap pekerjaanku.



Tuhan,

redhaMu kugapai buat bekal perjalananku dan perjuanganku.

Ameen.

Kalimah La Ilahail Lallah!!!

Dalam kehidupan, kalimat tauhid La Ilaaha Illallah akan senantiasa memberikan kesan kuat kepada umat manusia. Kita akan mempunyai wawasan berfikir yang luas, karena kita meyakini Rububiyah Allah, sebagai Zat yang menciptakan langit dan bumi, sebagai Penguasa alam semesta, sebagai Pemilik barat dan timur. Bahkan Dia-lah yang memberi rezki dan mengatur umat manusia.

Iman kepada kalimat tauhid akan melahirkan rasa percaya diri dan kebesaran jiwa manusia. Kita yakin bahwa tak ada yang dapat menghalangi, selain Allah S.W.T. Hanya Dia-lah yang bisa memberi mamfaat dan mudharat. Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan, dan Dia jugalah pemilik segala hukum, kekuasaan dan kedaulatan.

Walaupun orang mukmin memiliki kebesaran jiwa dan wawasan berfikir, tapi kita harus tidak boleh sombong. Kita harus selalu berusaha agar tidak terpedaya oleh keluasan berfikir dan kebesarannya itu. Hal ini dapat dicapai bila kita selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Azza wa Jalla. Kita harus sadar bahwa hanya Allah-lah yang menganugerahi seluruh kekuatan dan kebesaran itu. Hanya Allah-lah yang berkuasa memberi dan mencabut sesuatu sesuai dengan kehendakNya.

Orang yang mengimani kalimat tauhid akan memahami sepenuh hatinya, bahwa jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan kebersihan jiwa dan amal shaleh. Kita berasumsi begini karena beriman kepada Zat Yang Maha Kaya dan Maha Adil. Hanya Dia-lah tempat bergantung/berpegang.

Orang yang beriman kepada kalimat tauhid juga tidak akan mudah dihinggapi rasa putus asa dan frustasi dalam keadaan apapun. Kita yakin karunia Allah tiada terbatas. Kita yakin terhadap kekuasaanNya karena Allah-lah pemilik dan pengatur alam ini.

Orang yang beriman juga akan selalu berada dalam ketenangan yang hakiki, walaupun berjuta manusia menghina dan menyempitkan lapangan hidupnya. Kita selalu yakin akan pertolongan Allah pasti datang. Oleh karena itu kita harus selalu bertawakal dan meminta pertolongan hanya kepadaNya.

Iman juga memberikan api kekuatan yang besar dalam tekad, keberanian, kesabaran, ketabahan, dan tawakal. Oleh karena itu orang beriman akan sanggup menghadapi tugas-tugas berat dan menantang di dunia ini. Semua itu kita lakukan semata-mata hanya mencari keridhaanNya.

Selanjutnya perhatikan firman Allah dan beberapa hadits rasul tentang keutamaan mengamalkan kalimat La Ilaaha Illallah ini:

1. Aman dari adzab Allah di dunia dan di akhirat (6:82).

(6:82)

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

2. Sebaik-baiknya iman.

Sabda Rasulullah : Iman itu ada 70 lebih cabang, yang penting dan utama adalah “La Ilaaha Illallah” dan yang terendah adalah menyingkirkan duri (sesuatu yang menyakiti) di jalan (HR. Muslim).

3. Sebab terhapusnya dosa dan maksiat.

Sabda Rasulullah s.a.w. : Allah s.w.t. berfirman : Wahai Ibnu Adam, sesungguhnya bila engkau datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu denganKu (pada hari kiamat) dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya akan Aku berikan samudera ampunan untukmu (Tirmidzi).

4. Sebab masuknya ke syurga atau ke dalam neraka.

Rasulullah s.a.w. bersabda : Allah berfirman : Barang siapa menerimaKu tidak meyekutukanKu dengan sesuatupun, maka ia masuk surga, dan barang siapa menemuiKu dan menyekutukan Aku dengan sesuatu, pasti ia masuk neraka (HR. Muslim).

Mudah-mudahan keutamaan mengamalkan kalimat tauhid ini dapat kita peroleh karena kita pasti bisa mengamalkannya, amiin (Sementara orang musyrik dan orang kafir tidak mungkin dapat melakukannya).

Rahsia Khusyu' Dalam Solat

Katakanlah: “Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am 6: 162)

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, sangat wara’
(hati-hati) dan sangat khusyuk sholatnya. Namun dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk. Maka ia selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih khusyuk dalam ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid (budak)
bernama Hatim Al Isam dan bertanya, “Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat ?”


Hatim berkata, “Apabila masuk waktu sholat aku berwudhu zahir dan batin.”

Hisam bertanya,”Bagaimana wudhu zahir dan batin itu ?”

Hatim berkata, “Wudhu zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh
semua anggota wudhu dengan air. Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

1. bertaubat
2. menyesali dosa yang dilakukan
3. tidak tergila-gila dunia
4. tidak mencari atau mengharap pujian orang (riya’)
5. tinggalkan sifat bangga
6. tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. meninggalkan sifat dengki

Seterusnya Hatim berkata,”Lalu aku pergi ke masjid, aku menghadap kiblat.
Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, surga disebelah kananku, neraka disebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahwa aku seolah-olah berdiri di atas titian jembatan Sirotol Mustaqim. Aku juga menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.”

Setiap bacaan dan doa dalam sholat kupahami maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu. Aku bertasyah-hud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al An’am 6: 79)

Isam mendengar dengan penuh takjub, menangislah dia karena membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Kematian Suatu Kepastian

Setiap makhluk hidup pasti akan mati. Ini adalah lumrah kehidupan yang diakui di Barat mahupun Timur. Untuk mengetahui kadar kehidupan seseorang dan kadar ketahanan hidup makhluk hidup tidak memerlukan kecerdasan tinggi. Anak-anak juga tahu bahawa kematian adalah suatau kepastian yang akan dialami oleh setiap orang atau makhluk hidup.

Malangnya manusia sering alpa bahawa kematian senantiasa mengintai, bahawa batas waktu kita hidup di dunia sama sekali tidak diketahui.

Manusia yang memiliki kesedaran akan batas-batas dalam kehidupan itulah yang disebut Rasullullah orang cerdas atau orang genius.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Mahukah kita digelar sebagai orang yang genius? Siapapun sangat gembira kalau digolongkan orang yang memilki kecerdasan tinggi.

Dengan prinsip ini maka sedar waktu terakhir kehidupan di dunia ini menjadi bahagian dari kecerdasan dalam kehidupan. Sejarah telah merakamkan Firaun yang mengaku dirinya Tuhan akhirnya menuju ajal. Sirahnya boleh kita baca dan mumianya boleh kita saksikan di Mesir.

Tiada sesiapun dapat lari dari kematian. Samada,Raja,menteri,oarang kaya,orang miskin..semuanya menuju kematian.Cuma masanya sahaj yang kita tidak tahu. Firman Allah

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ

وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Peringatan ini mengingatkan kepada kita, seharusnya kita sentiasa sedar tidak kira semasa kita sibuk,sedih,gembira,celik,tidur..ajal pastinya datang sepertimana yang telah dijanjikan.

Jadi...beringatlah...

"Allah forgives all sins"


Allah says: “Say: O my Servants who have transgressed against their souls! Despair not of the Mercy of Allah: for Allah forgives all sins: for He is Oft-Forgiving, Most Merciful.” [Sûrah al-Zumar: 53]This verse speaks about those who repent. It tells us that any sin, no matter how major, is expiated by sincere and proper repentance.

There are conditions for repentance to be sincere and proper. The first of these is that the penitent person desists from the sinful act. The second is that he feels deep and genuine regret for having committed the sin. The third is that he resolves in his heart never to return to the sin again. Finally, if the sin caused a transgression against the rights of another person, he needs to do his best to make amends.

When Allah sees this sincere repentance from one of His servants – a servant who truly turns to his Lord in fear and hope – He not only forgives the sin, but replaces those sins for good deeds to the servant’s credit. This is from Allah’s infinite grace and munificence.

Allah says: “Unless he repents, believes, and works righteous deeds, for Allah will change the evil of such persons into good, and Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful,” [Sûrah al-Furqân: 70]

Allah says this right after mentioning the sins of polytheism, murder, and adultery. However, this blessing is only for one who have faith, whose repentance is sincere, and who strives to work righteous deeds.

Allah’s generosity is so far-reaching, that we are not only forgiven through our specific repentance for each sin that we commit, but we can attain forgiveness simply through our constant appeals Allah to forgive us.

Another way that we attain Allah’s forgiveness is through the performance of good deeds. Allah says: “Establish worship at the two ends of the day and in some watches of the night. Lo! Good deeds annul evil deeds. This is reminder for the mindful.” [Sûrah Hûd: 114]

Some scholars are of the view that his verse is only speaking about the forgiveness of minor sins, and that major sins need specific repentance. They cite the following verse in support of this interpretation:

Allah says “If you shun the most heinous sins which you are forbidden, We will do away with your small sins and admit you to a gate of great honor.” [Sûrah al-Nisâ’: 31]

They also cite a number of hadîth, including the hadîth related by `Uthman that the Prophet (peace be upon him) said: “Any Muslim who offers the prescribed prayer, doing justice to its motions and to the humility that it requires, it will expiate for the sins that preceded it, as long as the person did not commit a major sin.” [Sahîh Muslim]

However, Ibn Taymiyah and a number of other scholars consider the verse “Good deeds annul evil deeds” to be general in meaning. It applies to all sins, major and minor. Even if a person’s good deeds do not expiate for the sin directly, there can be no doubt that those good deeds weigh in the balance of deeds on the Day of Judgment in a person’s favor. Whoever has his good days outweigh his evil deeds on that Day will attain salvation.

Allah says: “The balance that day will be true: those whose scale (of good) will be heavy will prosper, and as for those whose measure (of good deeds) is light, their souls will be in perdition, for that they wrongfully treated Our signs.” [Sûrah al-A`râf: 8-9]

Ibn Mas`ûd said: “People will be take into account on the Day of Judgment. Whoever has a single sin to his account more than his good deeds will enter the Fire. Whoever has a single good deed to his account greater than his sinful deeds will enter Paradise.”

Then Ibn Mas`ûd recited Allah’s words: “…those whose scale (of good) will be heavy, will prosper”.

Then he said: “Indeed, the balance will weigh an atom’s weight one way or another.”

Allah also forgives us our sins through the difficulties that we face in life. When we are stricken with illness or suffer from circumstances, we will earn forgiveness if we bear them patiently seeking Allah’s reward.

Allah forgives our sins on account of the supplications that others make to Allah asking for our forgiveness, including our funeral prayers. We earn forgiveness through the charity we gave in our lives that continue to provide benefit to others after our deaths. We earn forgiveness if we have pious children who beseech Allah on our behalf.

A Muslim’s sins are likewise forgiven through the punishment he may receive in the grave. Those sins are also forgiven by the intercession that the Prophet (peace be upon him) will make on that day, and then by the intercession those who are granted intercession. The Prophet (peace be upon him) said: “My intercession is for those who committed major sins from among my followers.”

Above and beyond all of this is the mercy of the Most-Merciful Lord who pardons on that Day all sins as He pleases, as long as the person meets Him worshipping Him alone without ascribing to Him any partner.